Dewa Dewa Mitologi di Jepang


Jepang adalah negara yang kaya akan sumber daya alam. Selain sumber daya alamnya yang melimpah, begitu pula dengan budayanya yang melimpah ruah. Di dalam budayanya yang beragam tersebut, banyak masyarakat yang memegang kepercayaan terhadap nenek moyang mereka. Salah satunya adalah agama Shinto yang sudah ada sejak zaman dahulu kala.


1. Izanami dan Izanagi

Kedua dewa ini merupakan dewa yang telah menciptakan Jepang. Izanagi telah mengaduk lautan dengan menggunakan tombak Amenonuhoko miliknya supaya dapat menciptakan Pulau yang bernama Onogoro, yang kemudian pulau inilah yang saat ini ditempati oleh orang-orang Jepang. 

Izanagi dan Izanami dapat dikatakan sebagai orang tua dari dewa dan dewi agama Shinto. Hanya saja, pada saat melahirkan Dewa Api Kagutsuchi, dewi Izanami pun meninggal dunia. Izanagi yang mengetahui fakta tersebut langsung marah dan membunuh Kagutsuchi dengan memutilasi tubuhnya menjadi delapan bagian. 

Dari tubuh itulah, muncul delapan gunung berapi Jepang.

Izanagi yang rindu dengan istrinya, dia pun mencoba untuk berkelana ke dunia orang mati atau biasa disebut dengan Yomi dan bermaksud untuk membawa Izanami kembali. Hanya saja setelah melihat tubuh istrinya yang membusuk, Izanagi malah melarikan diri dan menyegel alam kematian/Yomi itu dari dunia orang hidup menggunakan batu besar. 

Dari sanalah Izanami dikatakan sebagai dewinya orang mati. 

Izanami yang malu karena melihat suaminya lari melihat rupanya, akhirnya dia murka dan bertekad untuk mencabut 1.000 nyawa di setiap harinya, yang mana juga di balas oleh Izanagi dengan cara menciptakan 1.500 nyawa di setiap harinya. 

Izanagi yang telah keluar dari Yomi langsung melakukan ritual penyucian atau misogi supaya bisa bersih dari Yomi. Setelah itu, Izanagi menciptakan Tiga Anak Kesayangan yang disebut Sankishi, yakni Dewi Amaterasu, Dewi Tsukuyomi, dan Dewa Susanoo.

2. Ebisu

Ebisu merupakan putra pertama dari Dewi Izanami dan Dewa Izanagi. Karena sebuah pelanggaran yang telah dilakukan oleh Izanami, akhirnya sang anak pun terlahir "tanpa tulang". Oleh sebab itulah, Ebisu juga dapat disebut dengan nama Hiruko atau yang berarti "Anak Lintah".

Kurang dari 3 tahun, Ebisu langung diapungkan ke tengah laut oleh kedua orang tuanya. Dan untungnya Ebisu selalu beruntung hingga dia dapat selamat dan terdampar di Ezo atau yang saat ini disebut dengan Hokkaido.

Setelah itu, dia diasuh oleh penduduk asli Jepang yang bernama Ebisu Saburo. Setelah dia tumbuh sempurna sebagai Dewa, dia pun menyebut dirinya sendiri sebagai dewa Ebisu, yang merupakan dewa pelindung nelayan, anak-anak dan kekayaan. 

3. Kagutsuchi

Setelah itu, Izanagi dan Izanami lanjut melahirkan seorang putra, yakni Dewa Api Kagutsuchi, atau bisa disebut dengan nama Homusubi yang berarti "Ia yang Menyalakan Api". 

Karena kelahirannya yang memunculkan api yang sangat besar, secara tidak sengaja dirinya membakar Izanami sampai mati. Hal itu membuat Izanagi menjadi murka dan akhirnya membunuh putranya sendiri itu dengan cara memotong-motongnya menjadi delapan bagian. 

Delapan bagian potongan tubuh itu menjadi gunung berapi di Jepang. Selain itu, Darah dari Kagutsuchi melahirkan deaw dan dewi, mulai dari Dewa Petir Takemikazuchi hingga Dewa Naga Watatsumi. 

Dipercaya jika Kagutsuchi merupakan cikal bakal dari dewa dan dewi Jepang juga Hanya saja karena elemennya yang berlawanan dengan kayu, akhirnya Dewa Kagutsuchi ini dianggap sebagai dewa pembawa musibah. Meski demikian, Kagutsuchi tetap dipuja sebagai dewa pelindung para pengrajin besi dan keramik.

4. Amaterasu

Amaterasu berasal dari tetesan mata kiri Dewa Izanagi disaat dia membasuh matanya setelah kembali dari Yomi (alam kematian). 

Dewi Amaterasu merupakan Dewi Matahari bagi orang-orang Jepang. Izanagi telah memberikannya Negeri Dewa khusus untuknya, sehingga dia pun menjadi Ratunya Para Dewa.

Dewi Amaterasu sangat dikenal karena adanya konflik antara dirinya dengan saudaranya sendiri, yakni Dewa Badai Susanoo. Dewa Badai Susanoo telah menghancurkan sawah padi miliknya serta membunuh dayangnya pula. 

Hal itu membuat Amaterasu marah kemudian kabur ke Gua Ame no Iwato. Kepergiannya membuat langit dan bumi terjerumus ke dalam kegelapan. 

Akhirnya, para Dewa dan Dewi Takamagahara mencoba menarik dirinya dari gua persembunyian tersebut. Mereka mencoba menipu Amaterasu dengan cara mengadakan perayaan yang meriah. Perayaan diadakan karena mereka telah menemukan dewi yang lebih kuat dari Amaterasu. 

Perayaan itu membuat Amaterasu penasaran dan keluar dari goa, setelah itu melihat bayangannya sendiri di cermin Yata no Kagami. Goa itu langsung ditutup dengan menggunakan tali Shimenawa. Dengan begitu, cahaya dapat kembali lagi ke langit dan bumi. 

5. Tsukuyomi 

Pada saat Izanagi sedang mencuci mata kanannya ketika melakukan misogi, dari mata itu lahirlah Dewa Bulan Tsukuyomi. Ada cerita lain yang berkata jika Tsukuyomi terlahir dari cermin tembaga putih di tangan kanan Izanagi. 

Tsukuyomi adalah salah satu dari Sankishi, yang merupakan saudara dari Amaterasu dan Susanoo. Setelah itu Tsukuyomi menikahi saudaranya sendiri yang bernama Amaterasu. Karena itulah, Bulan dan Matahari berada pada langit yang sama.

Tidak lama setelah itu, Amaterasu tiba-tiba menceraikan Tsukuyomi dan memutsukan untuk pindah langit. Hal ini disebabkan Tsukyomi yang telah membunuh Dewi Pangan Uke Mochi karena jijik yang telah melihatnya dapat memuntahkan makanan dari dalam dirinya. 

Dari sanalah Bulan dan Matahari terpisahkan menjadi siang dan malam.

6. Susanoo

Setelah Dewa Izanagi mencuci hidungnya, dari sana lahirlah Dewa Badai yang bernama Susanoo. 

Susanoo termasul ke dalam Sankishi, atau merupakan saudara dari Amaterasu dan Tsukuyomi.

Setelah dirinya membuat Amaterasu marah, serta telah dianggap sebagai biang kerok dari hilangnya cahaya yang menyinari langit dan Bumi, para Dewa pun memutuskan untuk membuang Susanoo ke Bumi, lebih tepatnya di Provinsi izumo. Disanalah dirinya bertemu dengan ular berkepala dan berekor delapan yang bernama Yamata no Orochi. Dengan kekuatannya, dia membunuh ular tersebut menggunakan pedang Ame no Habakiri. 

Setelah membunuh Yamata, kebetulan dirinya menemukan pedang yang tersimpan di dalam ekor Yamata yang ke-4. Pedang itu diberi nama Kusanagi no Tsurugi dan kemudian diberikan kepada Amaterasu sebagai hadiah perdamaian. Hingga sekarang, Susanoo sangat dipuja oleh orang-orang Jepang di Prefektur Shimane.

7. Raijin dan Fujin

Pada saat Izanagi terjun ke alam kematian (Yomi), dia sangat terkejut ketika melihat tubuh Izanami yang membusuk. Dari tubuh Izanami itulah muncul Penguasa Kilat Raijin dan Penguasa Angin Fujin.

Raijin memiliki wajah yang seram, dan memiliki palu untuk menabuh gendang kilat yang berada di sekelilingnya. Dia juga memiliki tiga jari yang merupakan simbol waktu: masa lalu, masa kini, dan masa depan. Tidak hanya itu, Fujin juga digambarkan memiliki kantung yang berisikan angin yang sangat kencang!

Berdasarkan kisah, Raijin dan Fujin dianggap penyelamat Jepang pada saat mengusir tentara-tentara Mongolia dengan munculnya angin dewa atau kamikaze yang ada dua kali menginvasi Jepang di tahun 1274 dan 1281. Patung dari kedua dewa ini berada di Kuil Sanjusangendo di Kyoto. 

8. Ame no Uzume

Dewa yang satu ini digambarkan sebagai Dewi Fajar yang riang gembira. Ame no Uzume merupakan simbol dari spontanitas alam dan energi di dalam tari-tarian. Kisah yang terkenal mengenai dewa ini adalah pada saat dirinya membantu memancing Dewa Amaterasu keluar dari Gua Ame no Iwato yang membuat cahaya menghilang dari langit dan bumi. 

Dewa ini menari dan melucu dan bahkan sampai melucuti pakaiannya sendiri di hadapan dewa dan dewi. Mereka pun tertawa sampai-sampai Takamagahara ikut bergetar! Karena rasa penasaran, Amaterasu akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya dan akhirnya cahaya dapat bersinar kembali di langit dan di bumi. 

Kuil Dewa Ame no Uzume ini tidak hanya ada di Jepang, melainkan di Amerika Serikat pun juga ada loh! Terutama di California. 

9. Hachiman

Hachiman merupakan Dewa Perang dan Panah. Dalam kepercayaan Shinto dan Buddha, Hachiman pernah terlahir di muka bumi sebagai Kaisar ke-15 Jepang, dengan nama lain Kaisar Ojin di abad ke-4 masehi. Selain Perang, Hachiman juga dipuja-puja sebagai Dewa Pertanian dan Perikanan.

Konon katanya Hachiman adalah salah satu Dewa yang ikut menurunkan angin dewa (kamikaze) untuk menghentikan invasi dari tentara-tentara Mongolia! Pada masa samurai, Hachiman sangat dipuja oleh Klan Minamoto dan Klan Taira yang mana kedua klan ini saling bermusuhan. 

Kini, Kuil Usa yang berada di Prefektur Oita didedikasikan hanya untuk Hachiman. 

10. Inari

Dewa Inari atau Inari Okami merupakan Dewa yang paling sering disembah oleh warga Jepang. Biasanya digambarkan sebagai dewa pelindung kuil.

Dewa Inari merupakan dewa Kemakmuran dan Kesuburan yang melindungi para Pedagang. Penggambaran lainnya adalah digambarkan sebagai pria tua yang sedang menunggangi rubah putih.

Tidak hanya itu, Inari juga biasa digambarkan sebagai wanita yang cantik yang memiliki rambut panjang dan membawa beras. 

11. Kannon

Kannon merupakan Dewa versi Jepang dari Buddhanya Guan Yin. Sama halnya dengan Guan Yin, Kannon dipercaya sebagai Dewi yang welas asih kepada seluruh makhluk yang sudah mencapai tahap Bodhisatwa atau "tercerahkan". Kannon sendiri menghuna tempat yang bernama Fudrakusen, atau tanah suci yang berupa pulau berisikan pegunungan-pegunungan. 

12. Jizo

Selain Kannon, Jizo juga merupakan Dewa jepang yang berasal dari kepercayaan Buddha, Ksitigarbha atau Di Zhang. Sering kali patung Jizo ini berada di kuil-kuil kecil yang berada di sudut jalan Negara Jepang. 

Jizo merupakan Dewa pelindung anak-anak dan pengembara.

Berdasarkan legenda yang beredar di masyarakat, Jizo telah bersumpah untuk bertanggung jawab terhadap makhluk yang berada di enam alam dan "mengosongkan neraka", dari meninggalnya Buddha Gautama hingga keterbangkitannya Buddha Maitreya atau biasa disebut sebagai Akhir Zaman! Oleh karena itulah, Jizo ditugaskan untuk meringankan penderitaan dari jiwa-jiwa yang kesakitan di Neraka dengan menggunakan tongkat Shakujo dan permata yang bisa mengabulkan segala permintaan.

Jizo adalah dewa yang mengutamakan anak-anak dan janin yang masih belum lahir untuk dikasihani. Mereka-mereka harus menyelesaikan karma mereka masing-masing sehingga mereka terpaksa memasuki api pencucian.

Di api pencucian, mereka di tempatkan di Sai no Kawara atau tepi Sungai Sanzu yang mana mereka diharuskan untuk menyusun batu-batu yang tidak akan pernah selesai!

Anak-anak itu pun disiksa, sebab itulah mereka berlari ke arah Dewa Jizo. Dengan jubah miliknya, Jizo dapat melindungi mereka. Dan dengan wajah cerianya, dirinya mampu menghibur mereka. Dia juga sering digambarkan rahib biksu yang sederhana, tanpa diberi ornamen yang mencolok.

13. Agyo dan Ungyo

Agyo dan Ungyo merupakan salah satu Dewa di Jepang yang melambangkan dualitas simbol hidup dan mati. 

Agyo atau Misshaku Kongo merupakan sibol kekerasan yang seringkali digambarkan tokoh yang seram kekar dan memiliki taring yang tajam, serta memegang palu Vajra. Sementara itu, Ungyo atau Naraen Kongo adalah simbol dari kekuatan yang digambarkan sebagai tokoh besar kekar dengan mulut yang tertutup dan tangannya yang kosong untuk menggambarkan kepercayaan diri miliknya.

14. Benzaiten

Benzaiten merupakan Dewi pelindung aliran dari segala sesuatu, baik dari air, perkataan, pengetahuan, hingga waktu yang mana termasuk ke dalam Shichiukujin yang ternyata telah diadaptasi dari Saraswati di kepercayaan agama Hindu. Benzaiten digambarkan wanita yang menunggangi naga laut dan memainkan kecapi yang bernama Biwa.

Berdasarkan kepercayaan setempat, Benzaiten pernah menjinakkan seekor Naga berkepala lima di Enoshima dengan menggunakan kecantikannya. Benzaiten dipuja-puja oleh para geisha. 

15. Hotei

Dewa Hotei adalah dewa yang biasa dijuluki sebagai dewa gemuk. Selain itu dia juga dijuluki sebagai dewa ketawa. Hotei merupakan dewa titisan Bodhisatva Maitreya, seorang biksu yang sebelumnya pernah mendatangi daratan Tiongkok.

Hotei sendiri digambarkan memiliki penampilan seperti pengemis gempal dan berkepala botak. Hotei sering tersenyum riang, membawa tas yang besar dan disebut-sebut sebagai pembawa keberuntungan. Ia merupakan pelindung bagi anak-anak dan para nelayan.

Patung Hotei bisa ditemukan di berbagai belahan Negara, seperti Jepang, Vietnam, Thailand, dan juga India. Di Jepang pun, patungnya dapat kalian lihat di Kamakura.

16. Daikokuten

Daikokuten merupakan dewa yang diadaptasi dari kepercayaan India, yakni dewa kamtian yang bernama Mahakala. Daikokuten meskipun dianggap dewa perang, tapi dia juga termasuk dewa kekayaan dan kemakmuran.

Daikokuten digambarkan memiliki tubuh yang pendek dengan menggunakan pakaian Tiongkok, kakinya kecil dan memiliki jenggot. Selain itu, dia juga membawa palu dan emas dan 

17. Fukurokuju

Dewa Fukurokuju dipercaya bisa mendatangkan kemakmuran dan memberikan umur yang panjang. Bahkan dari arti namanya sendiri, yakni Fuku yang berarti kebahagiaan, sedangkan Roku berarti kekayaan, dan Ju yang berarti panjang umur. 

Fukurokuju adalah dewa pelindung bagi para atlet dan tukang jam.

Dia seringkali digambarkan selalu ada disampingnya burung bangau atau pun kura-kura bersamanya. Dia memiliki tubuh yang tinggi karena kepalanya yang besar dan panjang. Matanya yang besar dan memiliki jenggot bewarna putih, serta berpakaian seperti Sarjana di Tiongkok di zaman dahulu. 


18. Jurojin

Jurojin merupakan dewa kebijaksanaan yang asalnya dari Tiongkok. Jurojin adalah biksu Tao yang selalu membawa tongkat dengan bungkusan yang ada diujung tongkat tersebut. Hal itulah yang katanya membawakan kebijaksanaan. Dia juga dipercaya bisa membuat umur panjang seseorang. 

Menurut kepercayaan masyarakat sekitar, Jurojin digambarkan bersama dengan rusa. Ia adalah dewa pemabuk yang suka bermain wanita. Tapi Jurojjin juga adalah dewa pelindung bagi kaum-kaum intelek seperti guru, ilmuwan, ataupun dosen. 


19. Bishamonten

Bishamonten merupakan dewa perang yang sebenarnnya berasal dari India yang bernama Vaisravana. Hanya saja Bishamonten ini sering kali disalah artikan sebagai Dewa Perang, Padahal sebenarnya dia adalah Dewa misionaris buddhis.

Banyak orang yang menggambarkan rupa dari Bishamon ini adalah berwajah garang, selalu pakai baju zirah dan membawa pedang yang anti marabahaya. Bishamon mempunyai tubuh yang tinggi dan berjenggot, membawa gada di tangannya sebagai simbol kepercayaan dan mempunyai seorang utusan berupa penguin. 

Bishamon adalah dewanya para dokter, tentara dan juga biksu karena bisa mendatangkan kebahagiaan, kekayaan dan ketulusan. Selain itu Bishamon dipuja juga karena bisa membuat Iblis menjauh. 

Yak, itulah pembahasan singkat mengenai 14 Dewa yang ada di jepang. Semoga bermanfaat dan minta kritik dan saran supaya tulisan di blog ini menjadi semakin baik lagi.


Sumber :

https://www.idntimes.com/science/discovery/alfonsus-adi-putra-alfonsus/kumpulan-dewa-dan-dewi-populer-dari-mitologi-jepang?page=all

https://www.idntimes.com/science/discovery/akkun/7-dewa-keberuntungan-dalam-mitologi-jepang-siapa-saja-c1c2?page=all



Komentar

Postingan populer dari blog ini

16 Makhluk Mitologi yang Ada di Pulau Jawa